Kamis, 11 April 2019

Saiki Gelarku S.T. (Sobo Terminal)

Awal February 2019, dalam 2 minggu, aku nyaris meninggalkan rutinitas mengajar. Mojokerto-Sidoarjo, Mojokerto-Kediri, dan Mojokerto-Surabaya. Semua kulakukan PP - pulang pergi. Selain jarak yang memang memungkinkan untuk ditempuh pulang pergi tanpa menginap, menikmati perjalanannya adalah kesenangan tersendiri.



Jadwal Perjalanan

BPMTPK (Balai Pengembangan Media Televisi Pendidikan dan Kebudayaan)
Jl. Mangkurejo Kwangsan, Sedati, Sidoarjo
Kamis, 31 Januari 2019
Jumat, 1 Februari 2019
Senin, 4 Februari 2019
Rabu, 6 Februari 2019

SMKN 2 Kediri
Rakor ke-2 dan Workshop MGMP Multimedia SMK Provinsi Jawa Timur
Sabtu, 9 Februari 2019
Minggu, 10 Februari 2019

PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya)
Jl. Raya ITS, Sukolilo, Surabaya
Rabu, 13 Februari 2019
Kamis, 14 Februari 2019
Jumat, 15 Februari 2019

Pagi yang Sibuk

Perjalanan menggunakan bus mempunyai keuntungan yaitu dapat berjalan sewaktu-waktu. Tidak seperti kereta api dengan jadwal tertentu. Sebenarnya, ingin juga ke Surabaya menggunakan jasa KAI, turun di stasiun Gubeng, langsung turun di tengah kota, lebih dekat ke mana saja. Namun, takdir sepertinya berkata lain. Sulitnya mendapatkan tiket KA untuk kereta rute pendek Mojokerto-Surabaya yang hanya bisa dipesan saat pemberangkatan atau antara jam sembilan sampai empat sore. Jam sibuk kerja, yang tidak mungkin bisa kujangkau.
Akhirnya pilihan terakhir adalah naik bus.

Calon penumpang di terminal Mojokerto pagi hari sudah berjajar, menunggu dengan resah. Jajaran itu semakin banyak antara jam setengah enam hingga setengah tujuh. Sebagian dari mereka memakai masker. Namun, aku yakin penumpang-penumpang ini sebenarnya ke Surabaya untuk tujuan kerja atau mencari ilmu. Begitu bus datang, berebutan semuanya ingin naik. Meski tampak jelas, telah banyak penumpang yang berdiri. Tak urung juga calon penumpang ini masih berebut naik. Alhasil, di dalam bus, luar biasa sesak.

Terminal Purabaya - Bungurasih - Surabaya

Disinilah berkumpulnya segala macam alat transportasi massal. Dari bus antar kota, bus cepat terbatas, bus ekonomi, bus tayo, bus mini, angkot, becak, taxi argo, ojek konven, ojek online, ojek semi online, sampai ojek maksa. 
Dari Medaeng, yaitu jalur pecah depan Lembaga Pemasyarakatan alias rutan, mulai tentukan pilihan, mau naik ojek online, semi online atau ojek konven. Jika ingin naik becak, juga harus dipastikan sebelumnya. Area pintu masuk terminal merupakan wilayah kekuasaan ojek konven. Tertulis dengan jelas pada banner larangan mengangkut penumpang bagi ojek online. Untuk mendapatkan ojek online, dari pintu masuk berjalanlah ke kiri menuju halte Gudang Garam. Melewati Alfamart, jika ingin membeli snack, minuman dingin, dan tentu saja ice cream, pembalik mood setelah berdiri bergelayutan di bus. Setelah melewati pintu keluar terminal, silahkan nyalakan aplikasi grabnya. Setelah mendapatkan driver, jangan lupa diingat tipe sepeda dan nopolnya. Sebutkan ciri-ciri Anda dalam chat. Jangan katakan saya wanita menarik, saya lajang, saya baik hati dan tidak sombong hheeheheehee. Cukup sebutkan warna pakain dan jilbab yang dikenakan. Di chat itu pula, TKP penjemputan ditentukan. Karena area pintu keluar terminal adalah milik ojek konven. Pilihannya adalah menyeberang menuju halte atau melanjutkan berjalan hingga melewati warung makan + tambal ban. 
Perjalanan on foot akan menyiksa jika bus tidak diperbolehkan menurunkan penumpang di pintu masuk terminal. Yang begini seakan-akan sopir bus kucing-kucingan dengan polisi terminal. Bus akan menurunkan di dalam terminal, tempat seharusnya menurunkan penumpang. Aman. Namun, perjalanan on foot  menjadi lebih jauh. Jangan pilih arah kanan, karena Anda akan kembali pada pintu masuk terminal. Memilih arah kiri sudah tepat. Melewati deretan taxi argo yang siap menjejali Anda dengan berbagai pertanyaan dan penawaran. Jalan saja dan acuhkan mereka, jika Anda ingin naik ojek online. Lalu jalan setapak rimbunan tanaman perdu, sekilas itu bukan jalan. Namun, jika Anda nekat, always find a way after confusing. Halah...ngemeng opo iki heheheheeee. Berikutnya jalur selokan yang baunya siap membuat Anda muntah. Jalan secepat mungkin! 
Melewati deretan warung makan, jalan berpaving, trotoar sempit untuk pejalan kaki, berebut jalur dengan klakson bus antar kota yang keluar. Di pintu keluar itu, Anda dapat menyalakan aplikasi. 
Alternatif lain adalah turun di Ramayana, yaitu sebelum pintu masuk terminal. Inipun jika tidak ada polisi yang mencegat bus Anda. Area Ramayana adalah milik ojek konven begitu pula perkampungan yang ada di belakangnya. Anda perlu kembali berjalan ke kanan kurang lebih sepuluh dua puluh meter. Di seberang jalan, ada gang masuk ke perkampungan. Masuk ke gang tersebut. Tetapi jangan berhenti. Area gang adalah milik pangkalan becak. Terus saja berjalan hingga melewati jembatan kecil. Setelahnya, Anda dapat menyalakan aplikasi.
Jika tranportasi yang Anda pilih adalah taxi online yaitu menggunakan car/mobil, sebaiknya turun di Ramayana. Area tersebut bebas untuk car grab.

Rute BPMTPK

Dengan harga karcis bus ekonomi Rp. 7.000,-, perjalanan dari terminal Mojokerto ke terminal Bungurasih ditempuh lebih dari satu jam. Jika jalanan macet, waktu tempuhnya bisa sampai  satu setengah jam. Karena ini adalah kelas ekonomi, jangan berpikir enaknya dapat duduk santai dalam ruangan ber-AC. AC ada, cukup hanya untuk tidak menambah butiran keringat. Bau kecutnya tetap saja menempel. Dan berdiri adalah menu wajibnya.
Perjalananku tiba di Bungurasih pukul 8.30. Berikutnya mencari ojek online hingga ke BPMTPK.
Aplikasi terinstal di HPku yaitu Grab. Tidak ada alasan khusus, mengapa memilih Grab ketimbang Gojek yang sudah lebih dulu familiar. Bagiku cukup satu aplikasi untuk fungsi yang sama. Tidak makan tempat di wallpaper, kali ya...
Beberapa mas driver menyarankan menginstal OVO juga. Memang sih, Grab dan OVO sedang menjalin kerjasama. Banyak promo yang ditawarkan. Review dari internet, bahkan ada yang hanya membayar seribu perak untuk satu trip. Saat ini aku belum tertarik. Mungkin lain kali kalau jam tayang ST-ku meningkat hhahahaahaaaaa......
Sebagian besar teman-teman pelatihan memilih menggunakan sepeda motor. Yah.... mungkin cuma aku yang memilih ngegrab. Memang dengan sepeda motor, waktu tempuhnya lebih pendek dan biaya pengeluaran untuk bensin lebih murah. Mau juga sih naik sepeda motor. Asal ada yang nawari mbonceng, haahhaaaaha.... Kalau setir sendiri, kagak deh kayaknya....

Ini yang sampai sekarang masih membuatku bingung. Kantor yang dituju adalah BPMTPK, namun di aplikasi destinasi tersebut tidak ada. Begitu kuketik BPMT langsung muncul BPMTV teratas dengan alamat Jl. Kwangsan. Bea riding Rp. 15.000,-. Booking dan dapatlah seorang driver. Awalnya tenang-tenang saja tengok kanan-kiri menikmati tingginya gedung-gedung. Halooo...semakin curiga, ini si driver melewati Jl. A. Yani sampai Royal Plaza dan masih terus lurus. Aku ke Surabaya Kota? Mengikuti map pada grab sampai satu titik berhenti. Menyapu area sekitar, tidak ada satupun tulisan berbunyi BPMTV. Bertanya pada satpam juga hasilnya nol. Aku lihat lagi aplikasiku tidak ada yang salah, alamatnya Kwangsan, Sedati, Sidoarjo. Yang pasti aku harus putar balik dan membayar lebih untuk perjalanan offlinenya. Hari berikutnya, aku coba pilih urutan kedua BPMT yang BPMTP dengan alamat sama dengan BPMTV. Bismillah, pikirku. Bea riding Rp. 15.000,-. Booking dan menunggu beberapa menit. Melewati pertigaan jalan, mas driver mengarahkan setir sepeda ke kanan. Yup!! Ini sudah betul, arah Sidoarjo.

Tarif 

Tarif perjalanan dari terminal Bungurasih ke BPMTP berkisar antara Rp. 14.000,- atau Rp. 15.000,-. Pernah sekali aku harus membayar Rp. 20.000,-, sebelumnya aku mengcancel driver yang sudah dibooking. Mungkin, semacam denda. hheeheheheee
Aku memilih bike / sepeda motor, karena memang aku cuma sendiri. Selain itu juga, tahulah kemacetan di Surabaya. Jalur yang ditempuh luar biasa dahsyat bagiku. Menikung, memotong jalur, melewati lubang galian, genangan air hujan, nekat naik trotoar, belakang papan nama toko, menyempit di kerumunan pasar, putar balik lewat bawah jembatan yang kalau lewat jalur semestinya cuma berjarak sepuluh meter di depan, namun dipilih juga trotoar pasar dilewati karena satu-satunya alasan adalah jalur itu cuma satu atau dua pengendara yang berani lewat. Pyuh..!!
Sedangkan tarif perjalanan dari terminal Bungurasih ke PENS berkisar antara Rp. 24.000,- atau Rp. 25.000,-. Saat sore yang hujan, tarif itu naik menjadi Rp. 29.000,- 

Transportasi Umum

Asiknya pakai transportasi umum adalah tentu saja bertemu orang yang banyak. Mendengarkan kisah mereka menjadi daya tarik tersendiri buatku. Ada kenek bus yang rautnya mirip Bruce Wilis di Armageddon. Kalau teman sutradaraku, Pak Mif, baca ini, gak kebayang bagaimana reaksinya. Si Bruce Willis ini bahasanya monggo, mandap pundi mbak?
Kisah lain, Mas Driver Grab yang mulai ngedriver sejak pukul empat sore sampai sembilan atau sepuluh malam. Sebelumnya dia kerja di salah satu pabrik di Sidoarjo itu. Begitu keluar dari pabrik, pakai jaket hijau grab, nyalakan aplikasi grabnya, dan muter-muter sesuai permintaan pemesan. Setelah malam, dia pulang ke kos. Ya ke kos. Karena istri, anak, dan keluarganya semua ada di Pacitan. Sebulan sekali dia pulang menemui mereka. Sembari mencari uang receh digunakan untuk makan sehari-hari, sementara gaji dari pabrik untuk memenuhi kebutuhan di Pacitan. Mungkin dia habiskan waktu yang tersisa untuk hanya sekedar melupakan kerinduan. Nah, kan..... sudah jadi bahan cerpen heheheee..
Rata-rata driver grab adalah laki-laki. Meski ada juga yang perempuan, namun aku belum sekalipun mendapati mbak grab. Sepeda motor yang digunakan juga bervariasi, dari sepeda Astrea, Beat, Mio, Vario, Satria bahkan Pcx. Penghasilan mereka juga bervariasi. Rata-rata jika mulai mangkal dari jam tujuh pagi hingga tujuh malam, receh yang didapat bisa mencapai tiga juta per bulan setelah dipotong 20% oleh aplikasi. Si Bapak Grab dengan sepeda Pcx menghasilkan receh tiga ratus ribu sehari dengan pembagian cash dari konsumen seratus lima puluhan ribu, bersih dipotong aplikasi, bensin, dan makan cukup, serta poin reward yang diuangkan keesokan paginya. Hitung dihitung, si bapak bisa menghasilkan tujuh juta sebulan dengan enam hari kerja. Lebih besar dari gajiku. Eits, si bapak mangkal dari jam enam pagi hingga dua belas malam. Muter-muter selalu posisi on grab, tidak nyangkruk maen HP di warkop seperti driver yang lain. Karena itu dia pakai Pcx, berkendaranya enak, ergonomis, santai, dan tidak mudah lelah. Hahhaaahahaaa.... ini bukan promo sepeda. Receh yang didapat itu dia gunakan untuk cicilan sepeda Pcx-nya. Sementara dapur di rumah, telah ada toko jamu yang beroperasi dijaga sama si istri. Sederhana bukan?
Ada juga mas driver dengan Pcx putih. Jaket dan helm grabnya masih baru. Dia memang baru sebulan ngedriver. Baru lulus kuliah dan belum dapat kerja.
Nah, sempat terpikir mau buat film dengan judul GGS (Ganteng Ganteng Si mas driver) hheheheeee...


Anyway, apapun alasannya naik angkutan umum itu menyenangkan.
Jika saja alat transportasi di Indonesia lebih baik bagi, maka siapa takut ngepublic???

0 komentar:

Posting Komentar